<< BACK TO
JOURNAL
:: ABOUT :: PIECES OF MIND :: CIRCLE OF THOUGHTS

 
<<RECENT
  • "Laoshi Kok Nggak Seperti Orang Kristen?"
  • Wonderful Insights VS Tukang Komplen
  • Introspeksi
  • But if you let those feeling shackle you, then the...
  • Email Buat Gembala
  • Whazz Up?
  • A Little Bird
  • This is Where I Stand
  • [Bits] Just Do Your Part
  • [Bits] Use Your Talent Correctly
  • << PAST
    01.99 :: 03.99 :: 08.01 :: 01.02 :: 03.02 :: 07.02 :: 12.02 :: 11.03 :: 12.03 :: 01.04 :: 05.04 :: 06.04 :: 07.04 :: 08.04 :: 10.04 :: 11.04 :: 12.04 :: 01.05 :: 04.05 :: 05.05 :: 06.05 :: 08.05 :: 09.05 :: 10.05 :: 01.06 :: 02.06 :: 06.06 :: 09.06 :: 04.07 :: current

    Powered by Blogger

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com

    seal images from gettyimages
    designed by verypurpleperson

    :: spiritual thoughts ::

    Friday, April 13, 2007

    "Laoshi Kok Nggak Seperti Orang Kristen?"

    Pernah nonton acara 7 Hari Menuju Taubat-nya Lativi? Acara yang kental dengan tujuan syiar ini bertujuan untuk menjangkau orang2 "terhilang". Dan tipe2 orang yang dijangkau benar2 "kelas berat" macam preman atau waria. Biasanya orang2 itu didekati dengan halus dan ramah. Diajak ngobrol dulu, didengarkan segala masalah mereka, baru menyampaikan solusi pertobatan dengan halus dan ramah. Orang2 yang menjangkau biasanya benar2 bersikap halus, ramah dan sopan. Orang2 ini juga bersikap menerima kondisi apapun dari orang yang dijangkau. No judgement at all.

    Aku ingin mengkontradiksikan kejadian di atas dengan kondisi yang dialami oleh muridku. Murdiku ini seorang remaja 17 tahun, yang mempunyai masalah dengan syaraf motoriknya. Ini membuat dia sulit berjalan, dan melakukan gerakan2 halus seperti menulis atau menggambar. Dan karena kondisinya inilah, dia menghabiskan masa kecilnya di Australia dan Jepang. Ketika di Jepang inilah dia mulai diikat oleh roh jahat yang levelnya nggak main2.

    Apa reaksi pertama kamu kalo mengetahui seseorang mengalami keterikatan? Langsung bilang ke orang itu kalo itu harus dilepaskan? Yah, itu juga yang beberapa kali dialami oleh muridku. Dan sayangnya orang2 yang pernah mencoba melayani dia semuanya gagal. Yang lebih celaka lagi, orang2 Kristen di antara mereka selalu dengan arogan dan tanpa hikmat mengatakan "AKU pasti bisa melepaskan roh jahat yang ada di dalam kamu".

    Akibatnya muridku itu menyimpan akar pahit yang cukup dalam terhadap orang Kristen. Dia pernah secara spesifik bertanya apakah aku jemaat dari suatu gereja yang cukup besar di Indonesia. Puji Tuhan aku bukan dari gereja itu. Aku bilang Puji Tuhan bukan karena aku merasa gereja itu jelek. Tapi karena aku bukan jemaat gereja itu, muridku jadi nggak menolak aku.

    Sebenarnya sih aku tentu saja juga berpikir bahwa muridku itu harus dilayani pelepasan. Apalagi seiring dengan makin terbukanya muridku padaku, aku sudah lebih jelas dari siapapun tentang betapa perlunya dia dilayani. Dan ini bikin aku sempat menghela napas baik secara fisik maupun roh, karena waktu itu - sampe sekarang - aku dalam kondisi spiritual yang sangat jauh dari fit.

    Untung aku masih ingat untuk berdoa dan minta hikmat pada Tuhan tentang apa yang harus kulakukan. Dan Puji Tuhan, almost immediately, Tuhan menjawab bahwa aku "cuma" harus be there for him. Be there for him artinya aku harus menerima dia, mendengarkan dia tanpa sekalipun nge-judge. Sambil begitu, aku memberikan masukan dengan halus padanya.

    Mendengar perintah Tuhan ini, aku campuran antara lega dan menahan diri. Lega, karena obviously aku nggak siap untuk membawa dia ke pelayanan pelepasan. Menahan diri, karena jelas masih ada bagian dari diriku yang ingin segera membawa dia ke pelayanan pelepasan. Tapi aku masih ingat kok, didikan Tuhan untukku yang mengajarkan aku untuk bergerak hanya dalam batasan yang diperintahkan oleh Tuhan. Dan batasan Tuhan ini bisa sangat nggak bisa dinalar oleh manusia. Tapi EGP dengan nalar manusia kan? Aku cuma pingin menjalankan perintah Tuhan yang satu ini dengan benar kok.

    Jadi aku mendengarkan - menerima - meresponi - bercanda - menjadi teman, sambil memberikan masukan halus yang sesuai kondisi. Benar2 harus pakai hikmat deh, terutama ketika aku sedang meluruskan pandangan dia yang telanjur miring terhadap orang Kristen. Sampai kadang aku merasa aku dibayar bukan untuk memberikan les, tapi memberikan konseling. Dan ini makan waktu beberapa minggu sampai suatu hari dia tiba2 berkata "Laoshi kok nggak kayak orang Kristen?" Kata2nya itu membuatku tertegun beberapa detik. Tertampar oleh kenyataan betapa dalamnya luka yang ditimbulkan oleh orang2 Kristen yang pernah dia temui.

    Tapi aku tetap menyampaikan ke muridku kalau dia sebaiknya dilayani pelepasan kok. Hal ini aku sampaikan ke dia dengan halus dan dalam situasi yang memang sedang mengarah ke topik itu. Ketika dia dengan nada menantang bertanya jangan2 aku kepingin melepaskan roh jahat yang ada di dalam dia, dengan santai aku berkata, "Laoshi nggak disuruh (Tuhan) tuh?" Jadi aku tetap melayani muridku dalam batasan yang diperintahkan Tuhan, tanpa menolak atau menyembunyikan hal2 yang sebenarnya harus dilakukan oleh muridku.

    Bisa paham sharingku sampai point ini?

    Bagiku, yang penting adalah apa perintah Tuhan. Aku memang nggak selalu mau atau berhasil menjalankan perintah Tuhan. Tapi at least, pemikiran untuk menjalankan perintah Tuhan benar2 dalam batasan yang Dia perintahkan, sudah ada dalam hatiku. Dan untuk bisa begitu, aku benar2 butuh hikmat dari Roh Kudus, bukannya nalar manusia.

    Awalnya aku memang nggak seratus persen paham kenapa aku disuruh just be there for him. Tapi aku mulai paham, ketika ternyata aku bisa dengan tenang mendengarkan share2 dan cerita2 muridku, yang isinya jauh dari yang bisa ditolerir orang normal.

    Jadi aku nggak normal? Perhaps. I don't care. Yang jelas karena aku cukup tahan untuk mendengarkan dia, makanya aku yang disuruh Tuhan untuk be there for him. Karena aku cukup tahan untuk be there for him, maka aku bisa menyampaikan beberapa masukan dengan halus. Karena aku cukup tahan untuk memberikan masukan2 dengan halus, muridku itu mulai mengalami improvement dalam sikapnya. Misalnya, kebiasaannya mengatai orang2 yang lewat di dekatnya sudah berkurang banyak.

    Well, ikut Tuhan itu nggak bisa pakai nalar manusia kok. Karena jelas2 Tuhan nggak pakai nalar manusia ketika menjalankan kehendakNya. Buktinya dia masih mau pakai aku, yang dalam kondisi spiritual jauh dari fit, untuk menjalankan pelayanan yang seserius ini. Tapi ketika aku memutuskan untuk menjalankan dengan benar2 sesuai kehendak Tuhan, maka berkat dan jamahan Tuhan pun turun. BerkatNya memperlengkapi, menguatkan dan melindungi aku. JamahanNya menyentuh dan mulai mengubah muridku. Yang penting itu kan? Aku nggak mau menghabiskan waktu untuk memikirkan hal2 lainnya.

     

    posted by writer.seal @ 8:52:00 PM ::

    Saturday, September 23, 2006

    Wonderful Insights VS Tukang Komplen


    Setelah aktif pake komputer lagi, dua hari yang lalu aku mampir ke blogger seorang penulis. Aku kenal orang ini secara pribadi. Cuma sekarang udah nggak pernah ketemu lagi karena sudah lain gereja.



    Satu2nya hal yang membuat aku tertarik pada blog-nya adalah gaya
    menulisnya yang penuh kritikan, khususnya dalam lingkup orang2 Kristen.
    Sebenarnya aku sendiri juga sering menulis artikel2 kritikan sejenis.
    Malah secara style sebenarnya kami bisa dianggap sama2 punya style
    "kasar". Hanya bedanya, style-ku kasar karena aku menusuk langsung ke
    sasaran yang dikritik tanpa basa-basi, tapi gaya bahasaku justru halus.
    Sedangkan dia ini gaya bahasanya kasar tapi pendekatan kritiknya dengan
    menggunakan kiasan. Kalau mau, bandingkan aja dengan tulisan2ku di sini.



    Lepas dari soal style, aku menangkap kebenaran2 dalam artikel2 yang dia
    tulis kok. Tapi memang aku agak kaget melihat gaya bahasa dua
    postingnya terakhir. Menurutku jauh lebih kasar dari sebelumnya.
    Heheheee....



    Well, menyenangkan juga bahwa ternyata pepatah patah tumbuh hilang
    berganti masih bisa terjadi di gereja lamaku itu. I wonder kenapa ya
    nggak dari dulu dia mengangkat kritikan2 tajam itu ke permukaan. I
    wonder juga kenapa kalo dia yang nulis dikomen "wonderful insights",
    kalo aku dikomen "tukang komplen". Tanya kenapa.... Hahahahaa...!



    Oh dunia, betapa bencinya engkau pada kejujuran dan keterusterangan!
    Wasting time ah kalo terlalu sorong ke kiri sorong ke kanan. Tapi yang
    jelas emang ada sih "segmen" yang hanya bisa didekati lewat kiasan.
    Asal mereka ini tidak selalu merasa "Hahaha! Ini cerita tentang si A
    tuh. Ini bukan gue", saking kelewat pedenya.


     

    posted by writer.seal @ 4:29:00 AM ::

    Thursday, September 21, 2006

    Introspeksi

    Setahun terakhir ini, secara spiritual aku udah ngapain aja ya? Sadly to say, rasanya kok nggak ke mana2 ya. Malah jadi luar biasa mundur dibandingkan waktu aku masih di gereja yang sebelumnya. Dari seseorang yang rutin ke gereja jadi orang yang setahun nggak sampe sepuluh kali ke gereja. Dari seseorang yang sempat merasakan bahwa Bible itu adalah surat cinta dari Tuhan, aku jadi orang yang harus pake buku panduan saat teduh supaya bisa terus sate. Aku sampe ke tahapan nggak bisa mendapatkan sesuatu dari Tuhan melalui hasil merenung secara pribadi bareng Tuhan. Jadi terpaksa menelan mentah2 apa yang tertulis dalam buku panduan sate itu. Padahal tindakan ini bukannya tanpa resiko lho. Karena seperti yang aku alami baru2 ini, aku menemukan sebuah renungan yang mengajarkan cara doa yang salah.

    Sebenarnya, aku tuh bukannya nggak tahu tujuan didikan Tuhan untukku. Satu, sampe jadi seperti Roh Kudus. Dua, sampe punya iman seperti Daniel. Dan khususnya untuk tujuan yang kedua, itu artinya aku harus bisa mengalahkan diriku sendiri.

    Tapi tidak seperti dulu, kali ini meskipun aku tahu tujuan didikan dari Tuhan, aku nyaris nggak bergerak untk menjalaninya. Kenapa? Karena kali ini yang aku lawan diriku sendiri. Kesulitanku ini juga bukannya nggak aku sadari dari awal. Tapi gak tahu ya, kok kali ini aku bener2 melempem dengan sukses. Mungkin karena enggan melawan diriku sendiri, aku jadi makin berani untuk secara langsung menolak beberapa perintah Tuhan yang lain. Kurang ajar memang, tapi itu terjadi beberapa kali.

    Kondisiku makin parah lagi, ketika tiba2 aku sadar kalo aku menderita depresi. Depresi parah sedemikian rupa yang sempat nyaris melumpuhkan aku. Dan pasti aku udah bener2 lumpuh, kalo saja Tuhan nggak kirim Zell untuk jadi alat menolong aku. Thank God aku nggak sampe melakukan hal2 yang lebih aneh2 lagi. Padahal dalam masa depresiku, intensitasku untuk mikir pingin mati itu meningkat sangat tajam. Sekali lagi, pingin mati bukan pingin bunuh diri. Aku nggak sampai ke tahap mikir pingin bunuh diri. Ini sepertinya karena boring kronis yang bikin aku bosen untuk hidup. Andai saja aku mati besok ya gak pa-pa kok. Begitulah jalan pikiranku. Tapi lalu aku teringat Zell, yang tentu saja berat aku tinggalkan. Dan itu bikin pikiran pingin matiku ya cuma sampai situ aja, nggak lebih parah lagi.

    Aku mulai mempertanyakan apa segala wahyu tentang aku dan tentang Fonny-Sanny itu betul ya? Apa aku nggak salah tangkap? Buktinya beberapa wahyu sudah meleset tenggat waktunya. Tapi aku bukannya nggak punya dugaan kalo itu gara2 aku juga. Lha kurang ajar nggak mau ke gereja, trus nolak perintah Tuhan lagi. Yang sekarang paling mengiris hatiku itu, apa wahyu yang meleset itu gara2 aku ya. Aku pingin tanya, tapi kata2ku seperti sudah hilang duluan sebelum sempat terdengar suaranya.

    Mungkin karena pingin mengalihkan pikiran dari kondisi depresiku itu, aku mulai main PS2 dengan style yang makin lama makin gila. Karena aku nggak kerja tiap hari, aku sering begadang dari malam sampai subuh hanya untuk maen game. Malah aku sempat masuk ke tahapan yang lebih parah lagi. Bangun, langsung mikirin game. Jadi setelah buru2 menyelesaikan segala kewajiban (termasuk sate yang sempat aku anggap cuma sekedar kewajiban), aku segera menyalakan PS2 untuk main selama berjam-jam. Hanya berhenti untuk melakukan beberapa kewajiban penting. Lalu balik lagi maen game berjam-jam. Nyandu abis deh pokoknya.

    Gara2 style maen game yang seperti ini, aku makin susah mengalahkan godaan untuk nggak ke gereja. Bahkan aku beberapa kali menolak perintah Tuhan ke gereja. Aku bilang "beberapa kali", karena ya cuma beberapa kali itu aku bisa menangkap suara Tuhan yang memerintahkan aku ke gereja. Minggu2 lainnya aku lebih kayak orang yang pura2 budeg gak mau dengerin, sampe emang udah nggak bisa denger lagi.

    Aku sempat balik lagi melakukan dosa2 lama. Dan gobloknya hanya karena curious, aku sempat nyaris kejerat kebiasaan merokok lagi. Padahal dulu aku melepas kebiasaan itu nyaris tanpa kesulitan apapun. Goblok banget kan?

    Finally, setelah beberapa kali aku merasakan Tuhan marah ke aku gara2 nggak ke gereja, aku sampe di point di mana aku tahu hari Minggu itu aku harus ke gereja. Aku merasakan kemarahan Tuhan lagi waktu itu. Meskipun akhirnya aku pergi, alasan kepergianku nggak murni. Aku mikir, kalo aku ke gereja kan bisa sekalian cari kaset PS2 di Pakuwon. Duh.... Tapi baguslah aku tetap pergi. Aku emang nggak bisa langsung muluk2 berusaha mencapai level ke gereja karena mencari Tuhan. Tapi aku mikir, paling nggak aku nyampe ke gereja deh. Pasti nggak akan sia2, meskipun yang jadi pemicuku ke gereja bukan alasan yang bener.

    Waktu mau ke gereja itu, selama beberapa hari sebelumnya kesehatanku agak terganggu. Aku sempat mikir minta tanda aku disembuhkan kalo emang Tuhan bener2 pingin aku ke gereja. Duh, setelah aku menuliskan ini, aku baru sadar betapa konyolnya itu. Untung waktu itu Tuhan juga mengingatkan tanpa nada marah. Jadi aku tahu, sembuh nggak sembuh toh aku tetap harus ke gereja. Kinda like Daniel, diselamatkan apa nggak, dia tetap nggak akan menyangkal Tuhan.

    Sampai di gereja, aku agak tertegun ketika merasakan sedang disuruh ikut pelayanan choir. Waktu itu di gereja emang lagi diumumkan kesempatan pelayanan choir, dan satu lagi untuk drama Natal. Dua2nya, karena aku punya pengalaman pelayanan di dua bidang itu, memang bikin aku tertarik. Tapi bahkan sebelum doa pun, aku sudah menangkap kalo aku harus ikut pelayanan choir.

    Hari itu sebenarnya aku bisa langsung daftar untuk ikut pelayanan. Tapi aku memutuskan untuk doa sambil cari peneguhan dulu. Peneguhan itu yang penting, soalnya kan aku merasa aku udah sama sekali nggak peka. Lagipula aku juga merasa aku nggak layak untuk mulai ikut pelayanan, karena merasa dalam kondisi yang jauh dari beres.

    Lalu the next day, pas sate aku mulai mendoakan hal ini. Terutama pertanyaan aku boleh mulai pelayanan sekarang atau nggak? Dan aku dapat jawaban kalo justru dari pelayanan choir itu aku akan ditarik balik dekat lagi ama Tuhan. Karena aku akan diajar untuk bisa melakukan hal2 yang akan aku nyanyikan, sampe nggak cuma sekedar asal mangap aja. Belakangan ini aku emang kesulitan menyanyikan lagu2 pujian. Lha wong banyak kata2nya yang aku tahu nggak aku lakukan, atau nggak bisa aku lakukan. Jadi nyanyinya cuma bisa bersuara pada bagian lirik yang bisa aku lakukan.

    Aku juga mendoakan soal pelayanan drama Natal itu. Sejak awal ikut Tuhan, salah satu pelayanan pertamaku kan ya maen drama. Jadi secara pribadi, aku jelas merasa tertarik untuk ikutan. Tapi di luar masalah rohani, aku tahu kalo aku bakal kesulitan ikut latihannya. Mengingat betapa profesionalnya drama bikinan ICA, aku tahu latihannya nggak mungkin cuma pas weekend. Artinya pasti bakal sering latihan pas malam, dan kemungkinan besar ya di gedungnya ICA. Lah jalan Mayjend Sungkono, HR Muhamad dan sekitarnya itu kan rada rawan. Serem ah. Sedangkan latihan untuk choir diadakan seminggu sekali habis kebaktian. Jelas lebih safe lah.

    Nah, setelah merasa mendapat persetujuan dari God untuk mulai melayani dan tujuan dari disuruh ikut pelayanan itu, aku minta peneguhan dari Cik Yuli. Satu2nya orang di level pemimpin rohani yang masih deket dengan aku. Dan yang bikin aku bersuka cita itu karena Cik Yuli meneguhkan kalo aku boleh mulai pelayanan karena pelayanan akan bikin seseorang dekat ama Tuhan. Lalu waktu aku minta peneguhan lagi soal jenis pelayanannya, ternyata seperti yang aku dapat juga : choir. Sukacitaku itu nggak cuma karena aku boleh pelayanan lagi, tapi karena aku masih diijinkan ama Tuhan untuk peka menangkap perintahNya dan tujuan didikanNya kali ini.

    Well, seperti yang juga sudah aku tahu sebelumnya, ini masa di mana aku nggak bisa muluk2. Dulu sih kalo tahu sesuatu harus dijalankan seperti begini misalnya, aku akan langsung berusah loncat ke level itu. Nggak memberi ruang untuk menaiki level2nya, dan mungkin emang karena sikonnya waktu itu, jadi aku sering langsung dimampukan. Nah, sekarang kan gaya didikannya melawan diri sendiri. Jelas harus melalui tahapan2 deh.

    Aku bener2 sadar kok kalo nggak bisa kayak dulu langsung loncat ke level tertinggi. Sekarang kan sikonnya juga udah beda. Kalo masih dididik dengan style kayak dulu, rohaniku jelas akan mati. Percaya deh, didikan Tuhan itu selalu yang terbaik style-nya. Meskipun mungkin di mata manusia terkesan turun levelnya. Tuhan juga nggak nyuruh aku untuk pasang target tinggi2 kok. Tapi jelas nggak berarti aku bisa nyante2. Pokoknya berusaha ikut ritmenya Tuhan, supaya nggak terlalu muluk tapi juga nggak terlalu nyante.

    I still have (too) many questions sih. Tapi aku juga nggak muluk2 untuk mengejar semua jawabannnya sekaligus. In time, HIS time, semua akan jadi sesuai kehendakNya. Entah itu aku dapat semua jawabannya, atau aku tetap gak paham. Yang paling baik itu, dan sungguh aku yakini saat ini, bukankah berada dalam kehendakNya? Entah itu ke kanan atau ke kiri, Tuhan akan menunjukkan jalanku yang sesuai kehendakNya bukan kehendakku.
     

    posted by writer.seal @ 8:21:00 PM ::