Pernah nonton acara 7 Hari Menuju Taubat-nya Lativi? Acara yang kental dengan tujuan syiar ini bertujuan untuk menjangkau orang2 "terhilang". Dan tipe2 orang yang dijangkau benar2 "kelas berat" macam preman atau waria. Biasanya orang2 itu didekati dengan halus dan ramah. Diajak ngobrol dulu, didengarkan segala masalah mereka, baru menyampaikan solusi pertobatan dengan halus dan ramah. Orang2 yang menjangkau biasanya benar2 bersikap halus, ramah dan sopan. Orang2 ini juga bersikap menerima kondisi apapun dari orang yang dijangkau. No judgement at all.
Aku ingin mengkontradiksikan kejadian di atas dengan kondisi yang dialami oleh muridku. Murdiku ini seorang remaja 17 tahun, yang mempunyai masalah dengan syaraf motoriknya. Ini membuat dia sulit berjalan, dan melakukan gerakan2 halus seperti menulis atau menggambar. Dan karena kondisinya inilah, dia menghabiskan masa kecilnya di Australia dan Jepang. Ketika di Jepang inilah dia mulai diikat oleh roh jahat yang levelnya nggak main2.
Apa reaksi pertama kamu kalo mengetahui seseorang mengalami keterikatan? Langsung bilang ke orang itu kalo itu harus dilepaskan? Yah, itu juga yang beberapa kali dialami oleh muridku. Dan sayangnya orang2 yang pernah mencoba melayani dia semuanya gagal. Yang lebih celaka lagi, orang2 Kristen di antara mereka selalu dengan arogan dan tanpa hikmat mengatakan "AKU pasti bisa melepaskan roh jahat yang ada di dalam kamu".
Akibatnya muridku itu menyimpan akar pahit yang cukup dalam terhadap orang Kristen. Dia pernah secara spesifik bertanya apakah aku jemaat dari suatu gereja yang cukup besar di Indonesia. Puji Tuhan aku bukan dari gereja itu. Aku bilang Puji Tuhan bukan karena aku merasa gereja itu jelek. Tapi karena aku bukan jemaat gereja itu, muridku jadi nggak menolak aku.
Sebenarnya sih aku tentu saja juga berpikir bahwa muridku itu harus dilayani pelepasan. Apalagi seiring dengan makin terbukanya muridku padaku, aku sudah lebih jelas dari siapapun tentang betapa perlunya dia dilayani. Dan ini bikin aku sempat menghela napas baik secara fisik maupun roh, karena waktu itu - sampe sekarang - aku dalam kondisi spiritual yang sangat jauh dari fit.
Untung aku masih ingat untuk berdoa dan minta hikmat pada Tuhan tentang apa yang harus kulakukan. Dan Puji Tuhan, almost immediately, Tuhan menjawab bahwa aku "cuma" harus be there for him. Be there for him artinya aku harus menerima dia, mendengarkan dia tanpa sekalipun nge-judge. Sambil begitu, aku memberikan masukan dengan halus padanya.
Mendengar perintah Tuhan ini, aku campuran antara lega dan menahan diri. Lega, karena obviously aku nggak siap untuk membawa dia ke pelayanan pelepasan. Menahan diri, karena jelas masih ada bagian dari diriku yang ingin segera membawa dia ke pelayanan pelepasan. Tapi aku masih ingat kok, didikan Tuhan untukku yang mengajarkan aku untuk bergerak hanya dalam batasan yang diperintahkan oleh Tuhan. Dan batasan Tuhan ini bisa sangat nggak bisa dinalar oleh manusia. Tapi EGP dengan nalar manusia kan? Aku cuma pingin menjalankan perintah Tuhan yang satu ini dengan benar kok.
Jadi aku mendengarkan - menerima - meresponi - bercanda - menjadi teman, sambil memberikan masukan halus yang sesuai kondisi. Benar2 harus pakai hikmat deh, terutama ketika aku sedang meluruskan pandangan dia yang telanjur miring terhadap orang Kristen. Sampai kadang aku merasa aku dibayar bukan untuk memberikan les, tapi memberikan konseling. Dan ini makan waktu beberapa minggu sampai suatu hari dia tiba2 berkata "Laoshi kok nggak kayak orang Kristen?" Kata2nya itu membuatku tertegun beberapa detik. Tertampar oleh kenyataan betapa dalamnya luka yang ditimbulkan oleh orang2 Kristen yang pernah dia temui.
Tapi aku tetap menyampaikan ke muridku kalau dia sebaiknya dilayani pelepasan kok. Hal ini aku sampaikan ke dia dengan halus dan dalam situasi yang memang sedang mengarah ke topik itu. Ketika dia dengan nada menantang bertanya jangan2 aku kepingin melepaskan roh jahat yang ada di dalam dia, dengan santai aku berkata, "Laoshi nggak disuruh (Tuhan) tuh?" Jadi aku tetap melayani muridku dalam batasan yang diperintahkan Tuhan, tanpa menolak atau menyembunyikan hal2 yang sebenarnya harus dilakukan oleh muridku.
Bisa paham sharingku sampai point ini?
Bagiku, yang penting adalah apa perintah Tuhan. Aku memang nggak selalu mau atau berhasil menjalankan perintah Tuhan. Tapi at least, pemikiran untuk menjalankan perintah Tuhan benar2 dalam batasan yang Dia perintahkan, sudah ada dalam hatiku. Dan untuk bisa begitu, aku benar2 butuh hikmat dari Roh Kudus, bukannya nalar manusia.
Awalnya aku memang nggak seratus persen paham kenapa aku disuruh just be there for him. Tapi aku mulai paham, ketika ternyata aku bisa dengan tenang mendengarkan share2 dan cerita2 muridku, yang isinya jauh dari yang bisa ditolerir orang normal.
Jadi aku nggak normal? Perhaps. I don't care. Yang jelas karena aku cukup tahan untuk mendengarkan dia, makanya aku yang disuruh Tuhan untuk be there for him. Karena aku cukup tahan untuk be there for him, maka aku bisa menyampaikan beberapa masukan dengan halus. Karena aku cukup tahan untuk memberikan masukan2 dengan halus, muridku itu mulai mengalami improvement dalam sikapnya. Misalnya, kebiasaannya mengatai orang2 yang lewat di dekatnya sudah berkurang banyak.
Well, ikut Tuhan itu nggak bisa pakai nalar manusia kok. Karena jelas2 Tuhan nggak pakai nalar manusia ketika menjalankan kehendakNya. Buktinya dia masih mau pakai aku, yang dalam kondisi spiritual jauh dari fit, untuk menjalankan pelayanan yang seserius ini. Tapi ketika aku memutuskan untuk menjalankan dengan benar2 sesuai kehendak Tuhan, maka berkat dan jamahan Tuhan pun turun. BerkatNya memperlengkapi, menguatkan dan melindungi aku. JamahanNya menyentuh dan mulai mengubah muridku. Yang penting itu kan? Aku nggak mau menghabiskan waktu untuk memikirkan hal2 lainnya.